Jumat, 09 Juli 2021 13:54 WIB

Abses Gigi

Abses gigi merupakan kumpulan nanah pada ujung akar gigi yang meluas ke tulang alveolar (tulang penyangga gigi), yang terjadi setelah kematian pada saraf gigi (nekrosis pulpa) dan diikuti dengan suatu reaksi sakit yang bersifat lokal maupun umum.

Sebesar 90% peradangan jaringan pada wajah dan rongga mulut bersifat odontogenik (berasal dari gigi) dan ⅔-nya berasal dari nekrosis pulpa gigi atau gigi non vital.

Gigi non vital (kematian saraf gigi) dapat terjadi akibat:

  • Trauma benturan.
  • Kontak prematur (gigi tersebut berkontak terlebih dahulu) yang berkepanjangan. 
  • Terpapar bahan kimia.
  • Karies gigi yang tidak dirawat yang membuat kerusakan terus berlanjut hingga jaringan pulpa dan menyebabkan peradangan pulpa yang dikenal dengan istilah pulpitis dan berakhir menjadi nekrosis pulpa.

Untuk menghilangkan infeksi dan nanah, dokter gigi akan merekomendasikan beberapa tindakan berikut ini:

  • Pengeluaran nanah
    Dokter akan membuat sayatan kecil pada benjolan abses dan mengeluarkan nanah. Setelah nanah dialirkan dan area gigi dibersihkan dengan air garam, diharapkan bengkak akan berkurang.
  • Pemberian obat antibiotik
    Antibiotik sebenarnya tidak diperlukan bila sudah dilakukan tindakan pengeluaran nanah. Obat antibiotik baru diberikan apabila infeksi telah menyebar.

Perawatan saluran akar gigi
Perawatan akar gigi dapat membantu menghilangkan infeksi. Dokter akan mengebor gigi sampai ke bagian bawah untuk mengangkat jaringan lunak yang menjadi pusat infeksi dan mengeluarkan nanah. Setelah itu, gigi yang telah dilubangi akan dilakukan perawatan sehingga gigi bisa dipertahankan.

Proses kerusakan oleh bakteri akan terus berjalan dan di area periapikal gigi (sekitar ujung akar gigi) yang mengalami nekrosis pun akan mengalami kerusakan tulang (destruksi). Kerusakan ini akan membentuk kavitas (rongga) yang kemudian diisi oleh pus (nanah). 

Pus terdiri dari akumulasi/kumpulan leukosit polimorfonuklear, debris, dan produk bakteri. Dikarenakan tidak memiliki jalan keluar, maka pus akan meluas ke arah tulang alveolar. Akumulasi pus ini disebut abses. Peradangan lokal yang terjadi tergantung dari virulensi bakteri yang masuk ke jaringan tubuh  dan daya tahan tubuh.

Infeksi odontogenik dapat menyebar melalui tiga cara:

  1. Melalui kontinuitas spatium jaringan
  2. Melalui sistem limfatik (kelenjar limfe)
  3. Melalui sirkulasi darah

Rute yang paling sering adalah melalui kontinuitas spatium jaringan. Spatium ini merupakan area sempit yang terletak diantara tulang, otot, maupun kulit, dan mukosa. Area-area ini kebanyakan terhubung satu sama lain sehingga memfasilitasi penyebaran infeksi dari spatium ke spatium. Pus awalnya akan terbentuk pada rongga rongga tulang di sekitar ujung akar gigi (periapikal gigi),  kemudian menyebar pada berbagai arah. Penyebarannya ini bergantung pada posisi ujung akar gigi yang terlibat. Perhatikan arah penyebaran pus menuju sisi depan (bukal) maupun bagian langit-langit (palatal) pada gambar.

Perlekatan otot memiliki peranan penting pada penyebaran infeksi odontogenik. Pada gigi atas, apabila ujung akar gigi terlingkupi oleh perlekatan otot, maka pus akan menyebar intraoral (kedalam rongga mulut) membentuk abses submukosa sedangkan apabila ujung akar  gigi tidak dilingkupi oleh perlekatan otot maka pus akan menyebar ekstraoral (keluar rongga mulut) membentuk abses subkutan. Perhatikan perbedaan yang tampak pada posisi perlekatan otot terhadap ujung akar dan perbedaan penyebaran infeksi yang terjadi.

Pembentukan flegmon (Ludwig’s Angina)
Apabila penyebaran infeksi terjadi melalui celah di rahang bawah (spatium submandibulare), di bawah dagu (submental) dan dibawah lidah (sublingual), kondisi ini disebut flegmon/Ludwig’s Angina. Pus dapat meluas menuju spatium-spatium tersebut karena ujung akar gigi yang terlibat tidak dilingkupi oleh perlekatan otot dasar mulut (m. mylohyoid). Setelah pus meluas menuju spatium submandibular, penyebaran menuju spatium submental dan sublingual dapat terjadi karena spatium-spatium ini saling berhubungan. Kondisi ini merupakan kondisi yang mengancam jiwa

Nyeri dan pembengkakan pada dasar mulut disertai kesulitan bernapas. Pembengkakan (edema) pada dasar mulut akan mengangkat lidah sehingga menutup saluran pernapasan pasien. Pasien juga akan mengalami kenaikan suhu tubuh dan kesulitan dalam berbicara. Apabila tidak ditangani dengan cepat, infeksi dapat meluas menuju mediastinum sehingga akan membahayakan jantung pasien. 

Perhatikan posisi ujung akar gigi geligi pada gambar. Garis merah adalah perlekatan m. mylohyoid.

 

Penanganan infeksi apabila sudah meluas adalah dengan insisi (memberi jalan keluar pus). Selain itu, dapat dilakukan pemotongan (trepanasi) pada gigi yang terlibat untuk membuka saluran akar sehingga memungkinkan keluarnya pus melalui saluran akar. Tindakan ini diikuti dengan pemberian antibiotik spektrum luas terutama bila ada tanda-tanda infeksi yang meluas serta demam. Kemudian direncanakan untuk perawatan gigi yang menjadi penyebab baik melalui pencabutan maupun dengan perawatan endodontik.

Cara yang paling penting untuk mencegah abses gigi adalah mencegah kerusakan gigi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi.
  • Gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi setiap hari.
  • Ganti sikat gigi secara rutin setiap 3 bulan sekali.
  • Hindari menggunakan obat kumur setelah menyikat gigi karena dapat menghilangkan manfaat pasta gigi.
  • Kurangi mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula dan tepung, terutama di antara waktu makan atau sebelum tidur.
  • Rutin memeriksakan kesehatan gigi ke dokter gigi tiap 6-12 bulan sekali.
  • Rasa sakit dengan gambaran nyeri tekan yang ekstrem, bahkan tidak hilang setelah pasien konsumsi obat pereda sakit (analgesic) sehingga mengganggu aktivitas makan, tidur, dan kebersihan rongga mulut.
  • Supurasi (terbentuknya nanah).
  • Pembengkakan di area pus/nanah.
  • Gangguan pengecapan dan halitosis.
  • Bila abses semakin berkembang, pembengkakan semakin terlihat jelas.
  • Gigi ekstrusi (terasa memanjang), yang akan terjadi disertai sakit dan kegoyangan pada gigi yang bersangkutan.
  • Dengan perabaan (palpasi) pada gusi akan terasa ada pembengkakan dan lunak. Sering ditemukan adanya abses pada gusi (abses gingiva).
  • Gigi tidak menunjukkan adanya reaksi terhadap uji elektrik pulpa.
  • Terbentuk fistula/jalan keluar pus/nanah.
  • Terkadang asimptomatik.

Penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu: 

  • Virulensi bakteri. Virulensi bakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah.
  • Ketahanan jaringan sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak.
  • Perlekatan otot memengaruhi arah gerak pus.

Penderita abses gigi yang tidak diobati berisiko mengalami beberapa komplikasi berupa:

  • Kista gigi.
  • Sinusitis.
  • Osteomielitis atau infeksi tulang.
  • Angina Ludwig atau phlegmon pada dasar mulut.
  • Sepsis atau reaksi sistem imun yang mematikan akibat infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh.

Baca juga : Karbohidrat