• Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info

Temukan berbagai informasi kesehatan terkini dari sumber terpercaya

Kesehatan
Tetap Sehat Mental Selama Menjalani Perawatan atau Isolasi Mandiri
Covid-19 sudah melanda Indonesia hampir satu tahun dengan jumlah pasien yang terinfeksi virus masih terus bertambah. Pada tanggal 4 Februari 2021, data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini berjumlah 1.123.105 orang dengan tingkat kematian mencapai 31.001 orang. Data juga menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen wilayah di Indonesia sudah terdampak pandemi Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa penularan virus ini tidak hanya semakin tinggi, tetapi juga meluas jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pandemi Covid-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan jiwa dan psikososial setiap orang. Menurut WHO (2020) munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisan masyarakat. Ketakutan, kekhawatiran dan stres adalah respons normal terhadap ancaman yang dirasakan atau nyata dan pada saat dihadapkan pada ketidakpastian atau yang tidak diketahui. Walaupun begitu, stress, ketakutan, dan kekhawatiran yang berlebihan dapat meningkat menjadi gangguan kecemasan atau gangguan somatoform. Menurut DSM V (2015), beberapa dari gejala gangguan cemas diantaranya adalah mengalami sesak nafas, perasaan mau mati, pusing/sakit kepala, sulit tidur, sering merasa lelah, otot tegang. Sedangkan gejala gangguan somatoform adalah memiliki pikiran persisten yang berkaitan dengan gejala dari sebuah penyakit, dimana terkadang tampak tidak rasional. Ketika seseorang terkonfirmasi positif Covid-19, bisa jadi stres, rasa takut dan cemas langsung menghampiri. Penelitian yang dilakukan di luar negeri (dalam Amirullah dan Kartinah, 2020) menyatakan pasien atau penyintas dari Covid-19 dapat menunjukkan gejala trauma dan depresi. Selain itu, mereka mungkin mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan gejala Obsesif Kompulsif. Sedangkan serangkaian kasus pengamatan di Prancis menemukan bahwa 65% orang dengan COVID 19 di unit perawatan intensif (ICU) menunjukkan tanda-tanda delirium (kebingungan) dan 69% mengalami agitasi (kemarahan dan kegelisahan) (WHO, 2020a). Penyebab seseorang dengan kasus positif Covid-19 mengalami masalah atau gangguan psikologis ketika menjalani perawatan atau isolasi mandiri diantaranya adalah resiko kematian yang tinggi, adanya perasaan bosan dan tertekan selama isolasi (Masyah, 2020). Selain itu, adanya stigma masih menjadi momok tersendiri. Stigma (dalam Abdillah, 2020) merupakan suatu istilah yang menggambarkan suatu keadaan atau kondisi terkait sudut pandang atas sesuatu yang dianggap bernilai negatif. Stigma dapat: 1) Mendorong orang untuk menyembunyikan penyakit untuk menghindari diskriminasi, 2) Mencegah orang mencari perawatan kesehatan segera, dan 3) Mencegah orang untuk mengadopsi perilaku sehat. Tetap sehat mental selama menjalani perawatan dan isolasi tidaklah mudah, namun bukan pula hal yang mustahil untuk dilakukan. Hal pertama yang perlu mendapatkan perhatian adalah aspek kognitif atau cara berpikir Anda ketika menghadapi keadaan yang memerlukan perawatan dan isolasi. Caranya, Anda bisa membuat tujuan selama mendapatkan perawatan atau isolasi mandiri, serta berusaha untuk mencapainya sehingga dapat meningkatkan rasa adanya kontrol dan kompetensi. Tujuan yang dibuat haruslah realistis, disesuaikan dengan situasi dimana Anda berada dan disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda. Misalnya, Anda dapat melakukan pekerjaan berkaitan dengan penyelesaian tugas administrasi meskipun tidak bekerja di lapangan. Bagi sebagian orang, hal ini dapat menumbuhkan rasa kepuasan setiap kali berhasil menyelesaikannya dalam waktu satu hari. Ketika kita sedang mendapatkan perawatan dari Covid 19 atau melakukan isolasi mandiri, kita perlu mempertahankan harapan. Percaya bahwa Anda dapat melalui peristiwa ini dengan sebaik mungkin. Percaya bahwa kondisi ini akan memberikan pembelajaran tersendiri dalam hidup Anda. Percaya pada hal yang lebih bermakna, misalnya keluarga, keyakinan/agama, atau nilai-nilai yang diyakini seseorang. Selama Anda merasa mampu, tetap rencanakan rutinitas harian, serta buat rencana kesejahteraan untuk beberapa hari atau beberapa minggu ke depan. Usahakan tetap aktif bergerak, melakukan aktivitas seperti biasa, beribadah dan berolah raga dapat melawan beberapa gejala fisiologis dari gangguan mental. Tidak lupa makan makanan seimbang dan tidur tepat waktu. Saat Anda menjaga pola makan dan tidur, maka dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengatasi stress. Anda juga tetap perlu berhubungan dengan keluarga dan teman. Tetap dekat secara sosial meskipun ketika membatasi diri secara fisik. Hal ini bisa dilakukan secara digital, yaitu jalin komunikasi dengan teman, rekan kerja, dan keluarga menggunakan surat elektronik dan aplikasi. Anda juga bisa menonton film atau membaca buku yang sama, lalu diskusikan secara virtual, lakukan percakapan virtual sembari meminum kopi atau teh bersama. Cari atau ciptakan humor pada situasi yang tepat. Lelucon dapat menjadi penangkal yang kuat untuk mengatasi perasaan tidak berdaya atau putus asa. Meski begitu, tetap batasi koneksi dengan internet dan media sosial untuk hal-hal yang tidak perlu. Misalnya, mencari sumber informasi tentang Covid 19 bukan dari sumber yang terpercaya atau membaca berita-berita negatif terlalu berlebihan.  Jika memang merasa mengalami emosi-emosi negatif selama masa perawatan atau isolasi mandiri, cobalah terima emosi yang sedang muncul. Berada dalam situasi yang menekan dapat menyebabkan reaksi emosional yang berbeda seperti marah, frustrasi, cemas, penyesalan, mempertanyakan mengenai diri, menyalahkan diri sendiri, dll. Perasaan tersebut merupakan reaksi yang wajar pada situasi yang tidak wajar saat ini. Tidak menekan emosi-emosi tersebut, coba untuk pahami sumber dari emosi tersebut dan buatlah solusi sederhana dari persoalan yang sedang dihadapi. Anda bisa menggunakan teknik pengelolaan stress. Teknik relaksasi secara fisik dapat meredakan stres dan menjadi teknik yang berguna untuk mengelola rasa sakit dan kekacauan emosi. Sebagian besar orang akrab dengan teknik pengelolaan stress, akan tetapi tidak semuanya menggunakan atau mempraktikkannya. Inilah saat yang tepat untuk menggunakan teknik ini. Ketika Anda sudah melakukan semua cara di atas, namun masih merasa kesulitan untuk mengelola kesehatan mental, maka Anda bisa berkonsultasi dengan Psikolog terdekat. Psikolog akan membantu dalam melakukan asesmen, memandu dalam melakukan relaksasi, mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang adaptif, serta akan memandu untuk tetap berpikir dan berperilaku positif.     Disusun Oleh : Sarwendah Indrarani, M. Psi., Psikolog Sumber : Kompas.com (2021, 04 Februari). UPDATE: Bertambah 11.434, Kasus Covid-19 Indonesia Capai 1.123.105. Diakses pada 6 Februari 2021, dari https://nasional.kompas.com/read/2021/02/04/16323031/update-bertambah-11434-kasus-covid-19-indonesia-capai-1123105?page=all   Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit. (2020). Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Pandemi Covid-19. Jakarta : Kementerian Kesehatan Ri. Diakses dari : https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-dukungan-kesehatan-jiwa-dan-psikososial-pada-pandemi-covid-19 Abdillah, Leon. A. (2020). Stigma Terhadap Orang Positif COVID-19. Universitas Bina Darma. Diakses dari : http://eprints.binadarma.ac.id/4163/ Perhimpunan Nasional Bulan Sabit Merah Palang Merah (Red Cross Red Crescent). (2020). Dukungan Psikologis Awal (Psychological First Aid - PFA) Jarak Jauh selama pandemi COVID-19. Diakses dari : https://ipkindonesia.or.id/media/2020/04/Remote-PFA-IFRC-Bahasa-Indonesia.pdf Masyah, Barto. (2020). Pandemi Covid 19 Terhadap Kesehatan Mental Dan Psikososial. Palangka Raya : Mahakam Nursing Journal. Diakses dari : http://ejournalperawat.poltekkes-kaltim.ac.id/index.php/nursing/article/view/180
Kesehatan
Bahagia dalam Bekerja..
Apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam bekerja? Mengapa kebahagiaan dalam bekerja penting? Bahagia saat bekerja membuat kita lebih termotivasi dan percaya diri dengan pekerjaan yang dilakukan. Kebahagiaan dalam bekerja merupakan suatu mindset (pola pikir) yang memungkinkan kita untuk meningkatkan performa dan mencapai potensi yang dimiliki. Dengan demikian, hal ini membuat kita memberikan kontribusi lebih terhadap pekerjaan. Ketika kita bahagia dalam bekerja maka akan ada manfaat yang diraih, yaitu menjadi lebih kreatif dalam bekerja, mencapai goals dengan cepat, memiliki interaksi positif dengan rekan kerja, dapat mencapai kesuksesan, dan yang utama adalah menjadi individu yang lebih sehat. Semakin tinggi tingkat kebahagiaan, maka semakin kuat juga sistem imun di dalam tubuh. Hal ini juga berkaitan dengan stres yang akan timbul akibat kerja, yaitu semakin kecil peluang untuk terpengaruh oleh stressor. Hanya saja, kebahagiaan dalam bekerja tidak semata-mata hanya dengan selalu tersenyum atau memiliki mood ceria sepanjang hari. Ingat bahwa bahagia dalam bekerja bukan berarti harus merasa baik 100% setiap waktu atau tidak boleh memiliki emosi negatif. Terkadang justru perasaan seperti marah, frustrasi, atau kegagalan mendorong diri untuk melakukan aksi berbeda untuk menggapai kebahagiaan tersebut. Jadi intinya, bahagia dalam bekerja adalah bagaimana mindset yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan performa dan mencapai potensi diri. Lalu, bagaimana mencapai kebahagiaan dalam bekerja? Jessica Pryce-Jones dalam bukunya Happiness at Work menjabarkan ada lima hal (5C) yang berperan terhadap kebahagiaan dalam bekerja, yaitu: Contribution (Kontribusi). Kontribusi berkaitan dengan usaha yang dikerahkan. Individu yang memberikan kontribusi akan merasa lebih bahagia dalam bekerja. Jika ingin mengembangkan kebahagiaan tersebut, maka mulailah dengan berfokus pada hal-hal yang dapat dilakukan dan tetapkan tujuan yang ingin diraih. Tetapkanlah tujuan yang selaras dengan kemampuan, minat, serta nilai-nilai yang kita miliki. Jika tujuan tersebut sejalan dengan minat dan keinginan, maka akan memberikan efek bahagia bagi diri. Conviction (Keyakinan). Keyakinan merupakan penggerak yang membuat kita termotivasi saat bekerja. Dengan keyakinan, kita percaya bahwa diri kita menjadi lebih efektif dan efisien. Keyakinan ini juga membantu kita untuk merasa tangguh ketika kita berada pada masa yang sulit. Culture (Budaya). Budaya adalah lingkungan dimana kita bekerja. Setiap tempat kerja memiliki budaya tersendiri yang akan mengatur jalannya perusahaan. Untuk itu, kita perlu paham akan budaya di lingkungan kerja. Budaya dalam kerja juga menekankan pada siapa saja orang-orang yang terlibat di dalam organisasi, yaitu rekan kerja. Dalam bekerja, ketika kita tidak menyukai rekan kerja, maka akan sulit bagi kita untuk menyukai pekerjaan kita. Bekerja di lingkungan yang kita cintai membuat kita nyaman dalam bekerja sehingga konflik berkurang dan terciptanya kerja sama tim yang baik. Commitment (Komitmen). Kita tidak sepenuhnya dapat menjalankan pekerjaan dengan baik jika kita tidak bahagia dengan pekerjaan, karena selalu ada perasaan yang tertahan ketika seseorang melakukan hal yang tidak mereka senangi. Rendahnya tingkat kebahagiaan dalam bekerja akan berpengaruh pada rendahnya komitmen. Komitmen terbentuk atas perasaan dan kepercayaan. Titik mulanya adalah kepercayaan bahwa kita mengerjakan sesuatu yang berguna sehingga terbentuklah perasaan. Komitmen dalam bekerja pun muncul dan membuat kita terhubung dengan visi yang dimiliki oleh organisasi. Confidence (Kepercayaan diri). Kepercayaan diri dapat dikatakan sebagai elemen terpenting terhadap kebahagiaan yang menjadi dasar dari empat elemen lainnya. Dengan kepercayaan diri, harapan hari ini akan menjadi kenyataan untuk hari esok; Tanpa kepercayaan diri, motivasi tidak akan berubah menjadi suatu aksi. Ketika tidak memiliki kepercayaan diri, maka akan muncul keraguan akan kemampuan diri sendiri yang pada akhirnya berpengaruh pada performa. Sementara, kepercayaan diri berlebih justru membuat seseorang menjadi semakin arogan dan berdampak pada performa yang tidak efektif. Pada dasarnya, dibutuhkan kepercayaan diri yang optimal sehingga membuat kita dapat bekerja dengan lebih baik dan menyelesaikan tugas yang ada. Dengan demikian, kita pun percaya bahwa diri kita mampu untuk melakukan tugas dan mencapai tujuan yang diinginkan.  Dengan melakukan kelima hal tersebut, maka kita dapat membangun sendiri kebahagiaan dalam bekerja. Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk memulainya adalah self-awareness. Dengan sadar akan situasi kerja, kita memiliki perspektif terhadap situasi sehingga dapat mengatur situasi kerja menjadi lebih baik lagi. Satu hal yang perlu untuk kita ketahui adalah bahwa kita sendirilah yang menentukan seberapa bahagia diri kita. Meskipun pekerjaan tidak dapat membuat kita bahagia, setidaknya kita dapat membuat diri kita bahagia ketika bekerja. (oleh Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog)   Sumber: Pryce-Jones, Jessica. 2010. Happiness at Work (Maximizing your Psychological Capital for success). UK: Wiley-Blackwell.
Kesehatan
Yakes Telkom Luncurkan Aplikasi C-Track
Bandung – Dalam mewujudkan visi menjadi institusi layanan kesehatan terbaik berbasis managed care dan memanfaatkan teknologi digital terkini, Yakes Telkom meluncurkan aplikasi baru yang disebut dengan C-Track. C-Track atau COVID-19 Survivor Tracking adalah aplikasi pencarian penyitas COVID-19 TelkomGroup sebagai calon pendonor Plasma Konvalesen. Konvalesen itu sendiri berpijak pada pemahaman bahwa seorang penyitas infeksi, setelah sembuh akan membentuk antibodi dalam tubuhnya. Dan antobodi itulah yang akan ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh Direktur Utama Yakes Telkom, Teuku Zilmahram, “C-Track ini akan memudahkan tenaga medis terutama dalam pengobatan COVID-19, sehingga kalau dibutuhkan kita sudah punya data pendonornya.” Jelasnya. Adapun syarat pendonor konvalesen adalah sebagai berikut; berusia antara 18-60 tahun, sudah pernah terinfeksi COVID-19 (PCR Positif) dan sudah dinyatakan sembuh, tidak bergejalan minimal 14 hari setelah sembuh, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan yang diutamakan belum pernah hamil, dan diutamakan bagi mantan penderita COVID-19 yang ketika terinfeksi mengalami gejala sedang-berat. Aplikasi C-Track ini berguna untuk membantu pencarian data survivor COVID-19 yang memenuhi syarat sebagai calon pendonor Plasma Konvalesen secara cepat dan tepat. C-Track beroperasi dimulai dari bulan Januari 2021 dan dapat diakses melalui link intranet TelkomGroup untuk tetap menjaga keamanan dan kerahasiaan data survivor COVID-19.

Apa Kata Mereka tentang Yakes Telkom

Hubungi Kami