• icon-phone Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info Terpopuler

Yakes Mobile, Download Sekarang dan Nikmati Segudang Manfaatnya

Info Terbaru

image-newest
Berita

SARASEHAN: Kasus Covid Melandai, Bukan Berarti Pandemi selesai Jumat, 19 November 2021 16:24 WIB Bandung – Jumat (19/11) Yakes Telkom menyelenggarakan kegiatan Sarasehan (Sharing Santai Tentang Kesehatan) melalui Live akun Instagram Yakes Telkom. Pada kesempatan Sarasehan kali ini, dr. Huda selaku Narasumber menjelaskan bahwa sekarang ini di negara Inggris sedang terjadi gelombang ketiga penyebaran varian baru dari virus Covid-19 yaitu AY.4.2. Virus ini sangat cepat menular terutama pada orang yang memiliki komorbid, “sebaiknya pemilik komorbid dapat melakukan olahraga yang santai untuk tetap menjaga kebugaran tubuh, dan menjaga tingkat imun dalam tubuh”, ujarnya. Dengan menyebarnya varian baru yang lebih berbahaya ini, hal yang terpenting ialah menjaga imun tubuh kita, dan tidak boleh lengah dalam menerapkan prokes 6M: mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, membatasi mobilitas, menghindari kerumunan, dan menghindari makan bersama. “Untuk menjaga imun tubuh, kita juga harus banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi, cukup istirahat, rutin olahraga ringan, dan berjemur pada pagi hari selama 30 menit tiga kali seminggu”, imbuhnya. Perlu diperhatikan juga jika seseorang telah melakukan bepergian, agar selanjutnya melakukan karantina untuk melindungi diri dan mencegah penyebaran virus, perlu diketahui bahwa masa inkubasi virus Covid adalah selama 2-14 hari, dan harus melakukan karantina ketat jika terdapat infeksi pada tubuh. Sharing santai tentang kesehatan ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan kita semua akan bahayanya penyebaran Covid-19 yang masih mengintai. Mari jangan lengah untuk menerapkan Prokes 6M dan lindungi diri dengan vaksinasi agar tetap menekan pertumbuhan angka penyebaran Covid-19. (YKS00)

image-newest
Informasi

KASUS MELANDAI BUKAN BERARTI PANDEMI USAI Senin, 15 November 2021 08:55 WIB INFO YAKES KASUS MELANDAI BUKAN BERARTI PANDEMI USAI  Kasus infeksi Covid-19 di Indonesia mulai melandai, terlihat dari penurunan kasus positif per harinya menjadi kurang dari 400 (update 12 November 2021). Bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memasukkan Indonesia dalam kategori Level 1 atau risiko rendah penularan Covid-19. Sementara negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura masuk ke Level 4 (risiko penularan sangat tinggi). Meski demikian, bukan berarti kondisi Indonesia saat ini sudah aman dari bahaya penularan. Berikut 5 hal yang membuat kita harus tetap waspada terhadap munculnya gelombang ke-3 Covid: 1. Virus corona varian Delta Plus AY.4.2. yang ditengarai lebih cepat menular dan jadi perbincangan dunia sudah sampai negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Karakteristik varian Delta: lebih cepat menular, lebih mengikat reseptor sel paru-paru, berpotensi mengurangi respons antibodi. 2. Tingkat perlindungan vaksin Covid akan menurun seiring waktu (masa efektif kurang lebih 6 bulan) sehingga harus berhati-hati. 3. Status Indonesia yang masuk kategori Level 1 versi CDC menyatakan bahwa Indonesia aman untuk dikunjungi. Hal ini berpotensi membuka celah masuknya varian virus yang dibawa traveller. 4.  Mobilitas warga saat ini sudah hampir kembali seperti keadaan pra pandemi. Ini menjadi potensi besar penularan yang masif di masyarakat. 5. Indonesia memiliki momentum rawan mobilitas, dalam waktu dekat ini adalah liburan Natal dan Tahun Baru yang berisiko terjadinya lonjakan kasus infeksi Covid.  Jadi, jangan lengah! Tetap lakukan 4 hal ini: 1. Disiplin menerapkan prokes 6M, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menghindari kerumunan, Membatasi mobilitas, Menghindari makan bersama. 2. Lindungi diri dengan vaksinasi 3. Terapkan pola hidup sehat 4. Selalu berdoa untuk kesehatan kita semua (karyawan TelkomGroup dan keluarga) serta agar Indonesia segera bebas dari pandemi. Salam Sehat Yakes Contact Center: 15000 22 WA: 081 1 50 5000 22 ==== referensi: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/travelers/map-and-travel-notices.html https://nasional.kontan.co.id/news/kasus-melandai-as-masukkan-indonesia-ke-level-1-atau-risiko-rendah-covid-19 https://www.kompas.com/global/read/2021/10/13/181443070/efektivitas-vaksin-covid-19-akan-turun-seberapa-besar?page=all

image-newest
Artikel

Zoom Fatigue? Kelelahan Akibat Penggunaan Platform Video Conference. Kamis, 11 November 2021 14:16 WIB Situasi pandemi membuat kita beradaptasi dengan berbagai hal, salah satunya memanfaatkan media daring dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Saat ini hampir semua orang familiar dengan platform Zoom, media yang digunakan untuk kebutuhan meeting pekerjaan, sesi belajar-mengajar, serta interaksi dengan kerabat yang tidak bisa ditemui secara offline, semua dilakukan secara daring dengan memanfaatkan Zoom. Hanya saja, selain manfaat yang didapat, ternyata terdapat dampak lain yang ditimbulkan dari penggunaan platform tersebut. Pernahkah Anda mendengar istilah “Zoom Fatigue”? Zoom Fatigue menjadi salah satu fenomena psikologis yang muncul dan dijelaskan sebagai kondisi kelelahan mental yang terjadi akibat penggunaan platform komunikasi virtual secara berlebihan. Kondisi ini merupakan hal yang umum terjadi dan merupakan hal yang benar-benar baru serta dapat terjadi secara intens. Para peneliti dari Universitas Stanford mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan kelelahan tersebut. Beberapa penyebab yang ditemukan antara lain: adanya delay audio dalam respon verbal virtual yang dapat berdampak negatif pada persepsi interpersonal, terlalu banyaknya kontak mata yang terjalin saat menggunakan platform yang membuat kita lelah, dan terlebih lagi ketika menggunakan platform tersebut maka tidak hanya melihat banyak wajah dengan jarak yang dekat, tetapi kita juga melihat diri sendiri sepanjang hari. Lalu bagaimana tips yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelelahan tersebut? Selama rapat yang panjang, beri waktu diri kita untuk istirahat sejenak. Misal sekedar memalingkan badan dari layar atau melakukan stretching dengan mematikan video. Hal tersebut dapat dilakukan untuk memberikan gerak dan istirahat bagi tubuh. Bukan berarti dengan mematikan kamera maka kita tidak berpartisipasi aktif, namun hal ini memberikan keleluasaan sejenak bagi tubuh untuk bergerak sehingga kita tidak mengalami pegal ataupun kelelahan fisik lainnya. Menggunakan tombol “hide self-view”, yang bisa diakses dengan cara klik kanan pada profile video Zoom. Mengapa? Dengan melihat diri sendiri secara terus menerus berjam-jam setiap hari saat berbicara dalam rapat dapat memberikan kelelahan tersendiri. Ibaratnya seperti sedang berkeliling dengan cermin. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa ada konsekuensi emosional yang negatif dengan melihat diri di cermin secara terus-menerus. Dengan menggunakan tombol hide self-view, kita tetap dapat on camera tanpa perlu melihat wajah sendiri secara terus-menerus. Hindari multitasking. Dengan segala hal dilakukan secara virtual, tentunya kita beranggapan bahwa banyak hal dapat dilakukan dalam waktu bersamaan. Hanya saja, hal tersebut dapat mengurangi kinerja dan produktivitas. Para peneliti di Stanford menemukan bahwa orang-orang yang melakukan banyak tugas dalam satu waktu tidak dapat mengingat hal sebaik rekan-rekan mereka yang melakukan hal secara fokus di satu waktu. Menggunakan pilihan platform lain seperti komunikasi menggunakan email atau telepon jika memungkinkan. Cek kembali jadwal kita, apabila ada hal-hal yang dapat dialihkan dengan menggunakan email atau telepon, maka pilih opsi tersebut.   Pada dasarnya, berikan batasan untuk diri dengan meluangkan waktu istirahat di tengah-tengah kesibukan jadwal secara daring. Video conference adalah hal yang baik untuk komunikasi jarak jauh yang bisa kita lakukan saat ini. Di tengah situasi pandemi Covid-19, pertemuan daring menjadi pilihan efektif dan sehat. Zoom serta platform lainnya memudahkan kita untuk melakukan hal tersebut. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk memitigasi dampak yang tidak diinginkan sehingga kesehatan mental tetap dapat terjaga. Ingat, “hanya karena kita dapat menggunakan plafform yang ada bukan berarti bahwa kita harus melakukannya?”.   (oleh Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog)   Sumber: https://news.stanford.edu/2021/02/23/four-causes-zoom-fatigue-solutions/ https://hbr.org/2020/04/how-to-combat-zoom-fatigue