Rabu, 17 Maret 2021 22:41 WIB

Apa itu Hipertensi?

Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat diketahui dengan cara rajin memeriksakan tekanan darah. Untuk orang dewasa minimal memeriksakan darah setiap lima tahun sekali.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi mengacu pada suatu keadaan dimana tekanan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding pembuluh darah terlalu tinggi. Pengukuran tekanan darah ini mencakup dua parameter, yaitu tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.

Misalnya, bila tekanan darah adalah 120/80, maka tekanan darah sistolik adalah 120 mmHg dan tekanan darah diastolik adalah 80 mmHg. Tekanan darah sistolik adalah tekanan di dalam pembuluh darah pada saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan diastolik adalah tekanan dalam pembuluh darah pada saat jantung beristirahat. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi bila hasil pengukuran tekanan darah berada pada nilai 140/90 atau lebih.            

Hipertensi terbagi menjadi 2 macam, yaitu hipertensi primer dan sekunder. 90% dari penderita hipertensi termasuk ke dalam golongan hipertensi primer. Penyebab dari hipertensi primer belum diketahui secara pasti, sedangkan hipertensi sekunder umumnya disebabkan oleh berbagai kondisi seperti:            

  1. Penyakit Ginjal
  2. Penyakit Kelenjar Tiroid
  3. Tumor Kelenjar Adrenal
  4. Kehamilan
  5. Kelainan bawaan pada pembuluh darah
  6. Penyalahgunaan NAPZA
  7. Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat batuk pilek, pereda rasa sakit, obat KB hormonal, dll       

Beberapa hal dapat menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi. Faktor risiko ini terbagi dalam dua hal, yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah.             

  1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah:            
    - Usia
    - Jenis Kelamin
    - Keturunan            
  2. Faktor risiko yang dapat diubah:            
    - Obesitas/berat badan berlebih
    - Diet rendah serat
    - Konsumsi garam berlebih
    - Kadar kolesterol darah tinggi (dislipidemia)
    - Kurang aktivitas fisik dan olahraga
    - Merokok
    - Stres yang tidak terkelola dengan baik
    - Konsumsi alkohol

Hipertensi sering disebut sebagai “Silent Killer”. Hal ini disebabkan karena seringkali hipertensi tidak menunjukkan gejala sehingga penderitanya tidak menyadari bila menderita penyakit ini. Kondisi hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya terhadap organ-organ tubuh. Apabila merasakan salah satu atau beberapa dari gejala di bawah ini, patut dicurigai adanya kemungkinan menderita hipertensi. Gejala tersebut adalah:            

  1. Sakit kepala terus menerus atau sakit kepala yang berat.
  2. Rasa tegang pada leher.
  3. Pandangan kabur.
  4. Nyeri dada.
  5. Sulit bernapas.
  6. Detak jantung tidak teratur atau rasa berdebar-debar di dada.

Cara mendeteksi atau menegakkan diagnosis hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah dengan menggunakan alat yang disebut tensimeter. Dikatakan hipertensi apabila didapatkan hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau diastolik ≥90 mmHg.            

Joint National Committee (JNC) 8 adalah panduan yang dirilis pada 2014 dan disusun oleh para ahli medis berdasarkan kasus di lapangan (evidence based) sepanjang tahun 1996-2013. Panduan inilah yang paling banyak digunakan oleh dokter untuk menggolongkan penyakit hipertensi, mengidentifikasi faktor risiko, beserta cara penanganannya.

 Klasifikasi Hipertensi   Tekanan Darah Sistolik (mmHg)     Tekanan Darah Diastolik (mmHg) 
Normal < 120  Dan  <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥160 Atau ≥100

 

Jika tidak dikendalikan dengan baik, hipertensi akan menyebabkan komplikasi sebagai berikut:

  1. Penyakit jantung koroner
  2. Gagal jantung
  3. Stroke
  4. Gagal ginjal
  5. Gangguan penglihatan akibat kerusakan retina
  6. Penyakit pembuluh darah tepi

Baca juga : Pemeriksaan Awal untuk Hipertensi