Rabu, 14 Juli 2021 11:39 WIB

Konsep Dasar Imunisasi

Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya pembentukan kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit sehingga apabila suatu saat terkena dengan penyakit yang sama tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Pengertian Vaksin
Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Penyelenggaraan Pelayanan Imunisasi
Pelayanan imunisasi terutama dilaksanakan oleh pemerintah bekerjasama dengan masyarakat, swasta, dan pihak-pihak terkait.

Secara umum, tujuannya adalah untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain difteri, pertussis, tetanus, tuberculosis (TBC), hepatitis, pneumonia, polio, rubella, dan campak.

KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan pada seseorang yang terjadi setelah pemberian imunisasi. Kejadian ini dapat merupakan reaksi vaksin ataupun bukan. Kejadian yang bukan reaksi vaksin dapat merupakan peristiwa koinsidens (peristiwa yang kebetulan terjadi) bersamaan atau setelah imunisasi. Klasifikasi KIPI dibagi menjadi 5 kategori: 

  1. Reaksi yang terkait produk vaksin.
    KIPI yang diakibatkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih komponen yang terkandung di dalam produk vaksin. Contoh: Pembengkakan luas di tungkai setelah imunisasi DPT).

  2. Reaksi yang terkait dengan cacat mutu vaksin. 
    KIPI yang disebabkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih cacat mutu produk vaksin, termasuk alat pemberian vaksin yang disediakan oleh produsen. Contoh: Kegagalan yang dilakukan oleh produsen vaksin pada waktu melakukan inaktivasi lengkap virus polio saat proses pembuatan vaksin IPV (inactivated polio vaccine). Maka kegagalan dalam proses inaktivasi tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan.

  3. Reaksi terkait kekeliruan prosedur imunisasi.
    KIPI yang disebabkan oleh cara penanganan vaksin yang tidak memadai, penulisan resep, atau pemberian vaksin yang sebetulnya dapat dihindari. Contoh: Penularan infeksi karena vial multidosis yang terkontaminasi.

  4. Reaksi kecemasan terkait imunisasi.
    KIPI ini terjadi karena kecemasan pada waktu pemberian imunisasi. Contoh: Terjadinya vasovagal syncope pada remaja saat/sesudah imunisasi.

  5. Kejadian koinsiden. 
    KIPI ini disebabkan oleh hal-hal diluar produk vaksin, kekeliruan imunisasi, atau kecemasan akibat imunisasi. Contoh: Demam yang timbul bersamaan dengan pemberian imunisasi (asosiasi waktu) padahal sebenarnya disebabkan oleh malaria. Kejadian koinsiden mencerminkan peristiwa sehari-hari dari masalah kesehatan di masyarakat yang sering dilaporkan.


KIPI Serius, KIPI disebut serius apabila:

  • Berakibat kematian.
  • Mengancam jiwa.
  • Memerlukan perawatan di rumah sakit atau perpanjangan masa perawatan di rumah sakit.
  • Menyebabkan kecacatan/inkapasitas menetap atau bermakna.
  • Menyebabkan kelainan kongenital/cacat lahir.
  • Memerlukan tindakan intervensi untuk mencegah impairment/kerusakan menetap.

Kejadian Berat, istilah berat dipakai untuk menunjukkan derajat keparahan suatu kejadian (seperti ringan, sedang, berat), namun kejadian tersebut dapat merupakan peristiwa medis minor (misalnya demam adalah reaksi medis minor, namun derajat keparahannya dapat digolongkan demam ringan atau sedang).

Perbedaan antara KIPI yang langsung disebabkan oleh reaksi vaksin atau bukan reaksi vaksin harus dijelaskan kepada masyarakat dan orangtua. Dengan mendapatkan seluruh informasi yang mereka butuhkan tentang imunisasi, maka masyarakat dengan penuh kesadaran akan membawa bayi dan anak-anak mereka untuk diimunisasi. Petugas kesehatan harus terlatih dan mengetahui segala informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tentang imunisasi. Informasi mengenai manfaat imunisasi harus dijelaskan setiap kali kunjungan sehingga meningkatkan kepercayaan orangtua terhadap program imunisasi.


Penyebab Terjadinya KIPI

Vaksin mengandung berbagai komponen untuk membuatnya efektif dan memberikan perlindungan kepada orang yang menerimanya. Namun komponen-komponen tersebut mempunyai potensi menimbulkan risiko terjadinya reaksi yang tidak diinginkan.

National Regulatory Authority (NRA) suatu negara (dalam hal ini di Indonesia adalah BPOM/Badan Pengawasan Obat dan Makanan), harus menjamin bahwa setiap vaksin yang beredar di pasaran dan dimanfaatkan oleh program imunisasi dan masyarakat harus aman.

Vaksin dibuat dengan berbagai jenis antigen, teknologi, dan komponen yang berbeda. Vaksin bisa berupa antigen hidup yang dilemahkan (attenuated) atau antigen yang sudah diinaktivasi, serta bisa dalam bentuk rekombinan.

Vaksin dapat mengandung antibiotika, stabilizer, dan pengawet untuk mengurangi kontaminasi selama proses pembuatan, menjaga efektivitasnya selama penyimpanan, dan distribusi. Komponen yang ada di dalam vaksin: antigen, adjuvan, antibiotik, serta bahan pengawet (stabilizer dan preservatives) dapat menimbulkan KIPI akibat reaksi vaksin.

Baca juga : Vaksin Covid-19