Jumat, 19 Maret 2021 19:43 WIB

Mengenal Stomatitis Aftosa Rekuren

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) atau yang lebih dikenal dengan sebutan sariawan merupakan suatu penyakit mulut yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Penyakit ini dapat dialami oleh berbagai kalangan dari balita, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Sariawan merupakan penyakit ringan yang tidak membahayakan jiwa dan tidak menular, tetapi bagi yang mengalaminya akan terganggu dalam hal pengunyahan, menelan, berbicara, dan estetika jika terjadi di bibir.

Sariawan merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa mulut, berupa luka kecil berulang (tunggal maupun berkelompok) berbentuk bulat atau oval, tepi berwarna kemerahan dengan dasar kuning atau keabuan. Angka kejadian sariawan pada populasi dunia bervariasi antara 5-66% dan paling sering terjadi pada dekade kedua dan ketiga kehidupan seseorang.

SAR diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu:

  1. SAR Minor
    • SAR minor paling sering ditemui yaitu sekitar 75-85% dari seluruh angka kejadian SAR.
    • Berbentuk luka dangkal dengan diameter < 1 cm, berwarna kuning keabuan dan tepi kemerahan yang mencolok.
    • Sering terjadi pada bagian lidah, dasar lidah, pipi bagian dalam, dan bibir.
    • Dapat sembuh sendiri tanpa meninggalkan jaringan parut dalam waktu 10-14 hari.
       
  2. SAR Mayor 
    • Salah satu jenis SAR yang terjadi sekitar 10-15% dari seluruh angka kejadian SAR.
    • Berbentuk luka dengan diameter > 1 cm, berwarna kuning keabuan dan tepi yang tidak jelas.
    • Dapat muncul di setiap bagian rongga mulut, tetapi cenderung muncul pada langit-langit dan kerongkongan.
    • Kambuh lebih sering dan proses penyembuhannya lebih lama dibandingkan tipe minor, yaitu dalam waktu beberapa minggu dan membentuk jaringan parut.
       
  3. SAR Hipertiformis
    • Angka kejadian berkisar 5-10% dari keseluruhan kasus SAR.
    • Berbentuk luka kecil dan banyak (multiple) berjumlah 10–100, berbentuk bulat berdiameter 1-3 mm dengan tepi kemerahan.
    • Dapat muncul di setiap bagian rongga mulut, sering terjadi di bagian depan dan tepi lidah serta pada bibir.
    • Luka akan berlangsung 7-30 hari dengan penyembuhan meninggalkan jaringan parut.

Sariawan tidak akan langsung terasa tetapi akan berkembang secara perlahan dengan gejala seperti:

  • Sensasi rasa terbakar.
  • Tampak kemerahan pada daerah rongga mulut.
  • Rasa tidak nyaman saat menelan.
  • Timbul rasa sakit pada rongga mulut.
  • Tampak luka di daerah rongga mulut

Tahap terbentuknya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) dibagi menjadi lima tahap yaitu: 

  1. Tahap prodromal, yaitu timbul gejala seperti terbakar, gatal, dan rasa pedih.
  2. Tahap pra-ulkus, umumnya terjadi kemerahan dan pembengkakan. 
  3. Tahap ulkus, adalah tahap dominan dan mulai timbul rasa sakit pada daerah luka. Luka kecil dengan cepat berkembang menjadi luka ukuran besar, paling sering dengan diameter berukuran 0,3-0,5 cm. Luka aktif berlangsung dari 3-7 hari.
  4. Tahap penyembuhan, tahap penyembuhan dimulai saat berhentinya rasa sakit dan permukaan luka yang berangsur membaik 
  5. Tahap remission, periode ini dimulai pada periode bebas dari ulkus.

Penyebab utama Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) belum diketahui jelas, tetapi beberapa faktor disebut sebagai pemicu terjadinya SAR, diantaranya:

  1. Genetik
  2. Penyakit sistemik. Beberapa kasus sariawan kompleks terlihat pada pasien dengan penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Penyakit-penyakit ini termasuk lupus, penyakit behcet, penyakit radang usus, dan AIDS.
  3. Alergi 
    Suatu reaksi hipersensitivitas yang muncul akibat bahan alergen, antara lain obat-obatan, makanan maupun bahan kedokteran gigi.
  4. Cedera lokal
    Kegiatan yang dapat menyebabkan cedera lokal di rongga mulut adalah:
    • Aktivitas menggosok gigi yang terlalu keras sehingga menimbulkan luka.
    • Pengaruh pemakaian peralatan gigi seperti kawat gigi.
    • Penggunaan obat kumur yang terlalu keras sehingga merusak lapisan mulut terluar.
    • Penggunaan gigi palsu yang tidak terpasang dengan benar  
  5. Stres
    Dapat timbul karena kondisi psikologis seseorang seperti keadaan gelisah ataupun tertekan.
  6. Defisiensi nutrisi 
    Telah dicatat dalam beberapa penelitian bahwa sariawan disebabkan atau dipicu lebih lanjut ketika ada kekurangan asam folat, seng, atau zat besi dalam tubuh manusia. Kekurangan kalsium juga dapat menyebabkan sariawan.
  7. Perubahan hormon
    Pada wanita rentan terjadi sariawan pada masa menstruasi, kehamilan ataupun menopause dikarenakan perubahan hormon yang dialaminya.
  8. Infeksi virus dan bakteri

Baca juga : Pencegahan & Pengobatan