Jumat, 12 Maret 2021 22:30 WIB

Diagnosis Obesitas

Dalam mendiagnosis obesitas dan untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah

  1. Melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT).
  2. Mengukur Lingkar Pinggang (LIPI).
  3. Rasio Pinggang dan Pinggul.
  4. Pemeriksaan Komposisi Lemak Tubuh.
  • Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) adalah indeks sederhana yang digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa. Hitungan ini didefinisikan sebagai berat seseorang dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tingginya dalam meter (kg/m2).
  • Indeks massa tubuh merupakan indikator yang paling sering dipakai untuk mengetahui status gizi seseorang, apakah berat badan berlebih atau obesitas.
  • IMT yang tinggi bisa menjadi indikator kegemukan tubuh yang tinggi.

Kelompok berat badan lebih dan obesitas pada orang dewasa berdasarkan indeks massa tubuh menurut WHO berada pada nilai IMT 30 kg/m^2. Sedangkan nilai IMT 25-29,9 kg/m^2, dikatakan sebagai pra obese. Tetapi, sebaiknya nilai IMT untuk bangsa Indonesia, Thailand, China, dan Ethiopia adalah 1,9, 4,6, 3,2 dan 2,9 kg/m^2 lebih rendah dibandingkan dengan ras berkulit putih.

Kelebihan lemak perut merupakan faktor risiko independen yang penting untuk penyakit. Pengukuran lingkar pinggang dapat digunakan untuk menilai risiko yang terkait obesitas atau kelebihan berat badan. Berikut cara mengukur lingkar pinggang dengan benar:

  1. Berdirilah dan letakkan pita pengukur di sekeliling bagian tengah, setinggi antara batas bawah rusuk terakhir dan tulang pinggul (WHO, 2008).
  2. Pastikan pita pengukur horizontal di sekitar pinggang.
  3. Jaga agar pita pengukur terpasang erat di sekitar pinggang, tetapi tidak menekan kulit.
  4. Ukur pinggang Anda tepat setelah Anda mengeluarkan napas.

Berikut adalah batas lingkar pinggang yang menunjukkan peningkatan risiko penyakit:

  • Pada wanita, 80 cm atau lebih
  • Pada pria, 90 cm atau lebih
  • Pengukuran lingkar pinggul harus dilakukan di sekitar bagian terlebar dari bokong.
  • Rasio pinggang-pinggul (Waist Hip Ratio/WHR) adalah salah satu dari beberapa pengukuran yang dapat digunakan untuk melihat apakah kelebihan berat badan itu berbahaya bagi kesehatan. WHR mengukur rasio lingkar pinggang dengan lingkar pinggul. Ini menentukan berapa banyak lemak yang disimpan di pinggang, pinggul, dan pantat.
  • Obesitas tipe sentral, dengan kelebihan berat badan di sekitar bagian tengah (Tipe Android/Apel) berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung, diabetes melllitus tipe 2, dan kematian dini daripada obesitas tipe perifer dengan kelebihan berat badan di pinggul dan paha (Tipe Ginoid/Pir). 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), WHR yang sehat adalah:

  • 0,9 atau kurang pada pria
  • 0,85 atau kurang untuk wanita

Baik pada pria maupun wanita, WHR 1,0 atau lebih tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung dan kondisi lain yang terkait dengan kelebihan berat badan.

Persentase lemak tubuh adalah perbandingan massa lemak tubuh dengan komposisi tubuh. Persentase massa lemak tubuh bisa menjadi indikator risiko penyakit. Ada beragam cara berbeda untuk menghitung persentase lemak tubuh, dari yang sederhana (seperti dengan jangka sorong) hingga dengan pemindaian tubuh berteknologi tinggi. 

  1. Pengukuran Lingkar Pinggang (sudah dijelaskan di atas).
  2. Pengukuran dengan jangka sorong (yang juga disebut sebagai tes ketebalan lemak atau tes cubit).
    Pengukuran ini dilakukan dengan menarik lemak subcutaneous menjauhi otot hingga titik tertentu dan "mencubitnya" dengan jangka sorong. 
  3. Pengukuran Bioelectrical Impedance Tubuh
    Bioelectrical impedance adalah cara pengukuran komposisi lemak tubuh dibandingkan dengan jaringan lainnya, melalui daya hambatnya terhadap arus listrik. Hasil pengukuran bioelectrical impedance dilaporkan mempunyai tingkat akurasi 95% bergantung pada kandungan air dalam tubuh. Untuk mendapatkan hasil yang paling akurat, tidak makan atau minum 4 jam sebelum pengukuran; tidak berolahraga terlalu keras dalam waktu 12 jam, dan tidak konsumsi alkohol atau diuretika (kafeina) dalam waktu 48 jam.
  4. Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) (sudah dijelaskan di atas)
  5. Pemindaian DEXA (dual-energy x-ray absorptiometry)
    Pemindaian DEXA dilakukan menggunakan teknologi sinar-X untuk memperkirakan jaringan lemak, densitas mineral tulang, dan jaringan lemak di seluruh bagian tubuh dengan tingkat akurasi yang tinggi. 
  6. Penimbangan Tubuh di Bawah Air
    Penimbangan berat badan di bawah air dilakukan dengan cara berendam di tangki air kemudian jumlah air yang tumpah diukur dan hasilnya digunakan untuk mengukur densitas jaringan dan komposisi lemak seluruh tubuh.
  7. Pengukuran Near-onfrared Interactance (NRI)
    Cara pengukuran lemak tubuh ini dilakukan berdasarkan pada prinsip penyerapan, pemantulan cahaya, dan spektroskopi inframerah dekat.

Baca juga : Obesitas dan Kesehatan Gigi