Senin, 08 Maret 2021 13:43 WIB

Mengenal Gagal Ginjal Kronik (GGK)

Gagal Ginjal Kronik adalah penyakit yang ditandai dengan adanya kerusakan ginjal atau penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) atau angka Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) yang kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2 dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan.
Laju filtrasi glomerulus (LFG) adalah laju rata-rata penyaringan darah yang terjadi di glomerulus yaitu sekitar 25% dari total curah jantung per menit (sekitar 1300 ml). LFG digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai fungsi ginjal. 

Ginjal adalah sepasang organ yang berbentuk seperti kacang yang terletak saling bersebelahan dengan tulang belakang, tepatnya di bagian belakang bawah tubuh manusia yang normal. Terdapat 4 bagian utama ginjal, yaitu: Korteks, Medulla, Pelvis dan Nefron. Setiap ginjal mempunyai berat hampir 115 gram dan mengandung unit penyaringnya yang dikenal sebagai nefron. Nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Glomerulus berfungsi sebagai alat penyaring. Tubulus adalah struktur yang mirip dengan tuba yang berkaitan dengan glomerulus.

Ginjal berhubungan dengan kandung kemih melalui tuba yang dikenal dengan ureter. Urin disimpan di dalam kandung kemih sebelum dikeluarkan saat berkemih. Uretra menghubungkan kandung kemih dengan organ sekitar di dalam tubuh lainnya.

Ginjal adalah organ yang mempunyai fungsi vital dalam tubuh manusia. Fungsi utama ginjal adalah untuk mengeluarkan bahan buangan yang tidak diperlukan oleh tubuh dan mensekresi (mengeluarkan) air yang berlebihan dalam darah. Ginjal memproses hampir 200 liter darah setiap hari dan menghasilkan kurang lebih 2 liter urin. Bahan buangan adalah hasil dari proses normal metabolisme tubuh. Ginjal juga berperan penting dalam mengatur konsentrasi mineral-mineral dalam darah seperti kalsium, natrium, dan kalium. Ginjal berfungsi juga untuk mengatur konsentrasi garam dalam darah, keseimbangan asam basa darah, serta sekresi bahan buangan dan lebihan garam.

Keadaan dimana fungsi ginjal mengalami penurunan yang progresif secara perlahan yaitu 60% dari kondisi normal mengarah kepada ketidakmampuan ginjal yang ditandai dengan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. 

Hampir 1 juta unit nefron ada pada setiap ginjal yang berpengaruh kepada jumlah akhir laju filtrasi glomerulus (LFG). Ketika tidak terjadi kerusakan pada jaringan ginjal yang progresif dan menahun, ginjal memiliki kemampuan untuk mempertahankan LFG. Kemampuan ginjal ini dapat meneruskan fungsi normal ginjal untuk mensekresi bahan buangan seperti ureum dan kreatinin. Kadar kreatinin akan meningkat jika terjadi penurunan LFG sebesar 50%.

Pada Gagal Ginjal Kronik, fungsi normal ginjal menurun. Produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekskresi (dibuang) melalui urin tertimbun di dalam darah sehingga menyebabkan uremia (peningkatan kadar ureum dalam darah) dan mempengaruhi setiap sistem tubuh penderita. Semakin banyak timbunan produk bahan buangan, semakin berat gejala yang terjadi. Penurunan jumlah glomerulus yang normal menyebabkan penurunan kadar pembersihan substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya LFG, mengakibatkan penurunan pembersihan kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia (gangguan makan), mual, dan muntah sehingga mengakibatkan kekurangan zat gizi tubuh. Peningkatan ureum dan kreatinin yang sampai ke otak dapat mempengaruhi fungsi kerja dan gangguan pada sistem saraf.

Pada penyakit ginjal tahap akhir, urin tidak dapat dikonsentrasikan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan sehingga meningkatkan risiko terjadi gagal jantung kongestif. Penderita akan mengalami sesak napas akibat ketidakseimbangan asupan oksigen dengan kebutuhan tubuh. Tertahannya natrium dan cairan akan menyebabkan edema dan ascites.

Gagal Ginjal Kronis (GGK) berkaitan dengan penurunan progresif laju filtrasi glomerulus (LFG) atau eGFR (Estimated Glomerular Filtration Rate). Stadium-stadium GGK didasarkan pada tingkat eGFR yang tersisa dan mencakup: 

  1. Penurunan fungsi ginjal, yang terjadi apabila eGFR turun 50% dari normal.
  2. Insufisiensi ginjal (ketidakcukupan fungsi ginjal), yang terjadi apabila eGFR turun menjadi 20-35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima.
  3. Gagal ginjal, yang terjadi apabila eGFR turun menjadi 20% dari normal, semakin banyak nefron yang tidak berfungsi.
  4. Penyakit ginjal stadium akhir, yang terjadi apabila eGFR turun hingga hanya menjadi 5% dari fungsi normal.

Klasifikasi GGK berdasarkan eGFR, dimana nilai normalnya adalah 90 - 125 ml/min/1,73 m2:

Stadium Penjelasan

GFR
(mL/min/1,73m2)

1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat >= 90
2 Kerusakan ginjal dengan penurunan ringan 60 - 89
3a Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR ringan sampai sedang 45 - 59
3b Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR sedang hingga berat 30 - 44
4 Kerusakan ginjal dengan penurunan berat GFR 15 - 29
5 Gagal ginjal < 15

*dikutip dari KDIGO 2012 clinical practice guideline for evaluation and management of chronic kidney disease


Klasifikasi GGK berdasarkan kriteria albumin dalam urin:

Kategori AER (Albumin excretion rate) ACR (Albumin creatinine ratio) Penjelasan (albuminuria)
mg/24 jam mg/mmol mg/g
1 < 30 < 3 < 30 normal atau meningkat
2 30 - 300 3 - 30 30 - 300 peningkatan sedang
3 > 300 > 30 > 300 peningkatan berat

*dikutip dari KDIGO 2012 clinical practice guideline for evaluation and management of chronic kidney disease

  • Hipertensi sistemik.
  • Obat-obatan nefrotoksik (bersifat merusak ginjal), seperti obat anti infalamasi non steroid (NSAID).
  • Kesadaran menurun akibat kehilangan darah dan cairan tubuh dalam jumlah yang besar.
  • Proteinuria (adanya protein dalam urin).
  • Hiperlipidemia (kelebihan lemak dalam darah).
  • Hiperfosfatemia dengan deposit kalsium fosfat (kelebihan fosfat dalam darah).
  • Kebiasaan merokok.
  • Diabetes yang tidak terkontrol.

Ginjal berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh, sehingga jika terjadi penurunan fungsi ginjal maka akan menyebabkan banyak kelainan dan mempengaruhi sistem tubuh yang lain.

Pada umumnya penderita GGK stadium satu sampai tiga tidak mengalami tanda dan gejala awal atau tidak mengalami gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, endokrin dan metabolik. Sedangkan pada penderita GGK dengan stadium empat dan lima memperlihatkan beberapa gejala klinis, seperti: 

  • Poliuri (sering BAK), Nokturia (sering BAK di malam hari)
  • Edema (bengkak) pada tungkai dan mata
  • Kelelahan dan lemah karena anemia
  • Anoreksia (gangguan makan), mual, dan muntah
  • Gatal pada kulit
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Perdarahan karena mekanisme pembekuan darah yang tidak berfungsi
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Proteinuria (adanya protein dalam urin)

Diagnosis GGK ditetapkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  1. Anamnesis
    Pada anamnesis dapat ditemukan beberapa gambaran klinis (keluhan subjektif dan objektif termasuk kelainan laboratorium), seperti: lemah, anoreksia, mual, muntah, gangguan BAK (poliuri dan nokturi), riwayat hipertensi, dan DM tipe II.
  2. Pemeriksaan Fisik
    Dapat ditemukan konjunctiva anemis, bengkak pada kelopak mata/kaki/seluruh badan.
  3. Pemeriksaan Penunjang, antara lain:
    • Pemeriksaan fungsi ginjal: peningkatan kadar ureum dan kreatinin.
    • Penurunan eGFR yang dihitung dengan menggunakan rumus Kockroft - Gauft (hasil <60 ml/menit/1,73 m2).
    • Penurunan kadar hemoglobin, peningkatan kadar asam urat, hiper/hipokalemia, hiponatremia, hiperfosfatemia, dan hipokalsemia.
    • Urinalisis: proteinuria, hematuria dan leukosituria.
    • Pemeriksaan radiologis, seperti: 
      • Foto polos abdomen: bisa tampak batu radio opak.
      • Ultrasonografi ginjal: ukuran ginjal mengecil, korteks menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, dan kalsifikasi.
      • Pielografi antegrad atau retrograd sesuai indikasi.
      • Pielografi intravena.

Baca juga : Komplikasi pada GGK