Rabu, 14 Juli 2021 11:25 WIB

Pengobatan & Pencegahan Limfoma

Pengobatan kanker terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang akan bekerja sama secara tim untuk memberikan terapi yang terbaik. Tim ini terdiri dari berbagai dokter spesialis, perawat onkologi, tim farmasi, tim gizi dll. Pemilihan terapi pada Limfoma Non Hodgkin bergantung pada jenis gambaran kanker kelenjar getah bening, stadium, sifat tumor (tidak nyeri/bertambah besar dengan cepat), usia, dan kondisi kesehatan pasien itu sendiri.

Terdapat beberapa pilihan terapi pada Limfoma Non Hodgkin yaitu terapi sistemik, radioterapi, transplantasi sumsum tulang, dan pembedahan. Terapi sistemik sendiri terdiri dari kemoterapi, terapi target, terapi biologis, dan terapi imun.

  1. KEMOTERAPI
    Pemberian kemoterapi pada pasien bertujuan untuk menghancurkan sel kanker dengan cara mencegah sel untuk dapat tumbuh dan berkembang. Umumnya kemoterapi sistemik ini diberikan melalui pembuluh darah atau dengan pemberian oral.
    Contoh obat-obatan kemoterapi yang ada antara lain siklofosfamid, vincristine, doxorubicin, fludarabine, dsb. Pemberian kemoterapi sistemik biasanya terdiri atas beberapa siklus dalam rentang waktu tertentu. Efek samping dari pemberian kemoterapi ini bergantung pada setiap individu dan dosis yang digunakan. Pada beberapa pasien dapat terjadi kelemahan, mual, muntah, rambut rontok, dan kehilangan nafsu makan. Selain itu efek lainnya yang dapat terjadi dari kemoterapi ini adalah masalah seksual dan fertilitas.

  2. TARGETED THERAPY
    Targeted therapy adalah tatalaksana yang menargetkan gen atau protein spesifik pada pengobatan kanker. Terapi ini akan menghentikan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker serta mencegah kerusakan sel sehat lainnya. Pada kasus Limfoma Non Hodgkin, antibodi monoklonal merupakan target utama terapi. Antibodi monoklonal yang disebut rituximab sering digunakan dalam tatalaksana berbagai tipe Limfoma Non Hodgkin dari sel B limfosit. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan sistem imun pasien sehingga dapat bekerja lebih baik untuk menyerang sel-sel kanker dan membuat sel-sel kanker menjadi lebih mudah dihancurkan oleh kemoterapi.

  3. RADIOTERAPI
    Terapi radiasi adalah pemberian energi radiasi untuk menghancurkan sel kanker. Umumnya pasien akan diberikan sinar dari luar (mesin) atau disebut external beam radiation therapy. Radioterapi umumnya diberikan setelah atau sebagai tambahan kemoterapi tergantung subtipe limfoma. Terapi radiasi terutama diberikan pada kasus yang bersifat lokal atau melibatkan organ di luar sistem kelenjar getah bening.
    Radioterapi juga dapat diberikan untuk meringankan nyeri atau gejala lokal pada pasien dengan stadium lanjut. Terapi ini akan diberikan selama beberapa kali dan terbagi dalam beberapa periode tertentu. Efek samping yang dapat terjadi umumnya adalah mual dan kelelahan. Efek samping yang lebih spesifik tergantung pada daerah yang akan mendapat terapi sinar, misalnya terapi sinar di daerah dada dapat mengalami peradangan paru-paru (pneumonitis).

  4. TRANSPLANTASI SUMSUM TULANG
    Terapi terbaru yang masih dalam tahap pengembangan pada limfoma adalah transplantasi sumsum tulang dimana terapi ini direkomendasikan bila kemoterapi dan radioterapi tidak menunjukkan respon yang baik. Terapi ini direkomendasikan bila pasien terdiagnosis limfoma agresif yang mudah kambuh. Tujuan dari terapi ini adalah untuk menghilangkan seluruh sel kanker di sumsum tulang, darah, dan bagian tubuh lain melalui kemoterapi dosis tinggi dan atau radioterapi. Selanjutnya sel-sel tersebut digantikan dengan sel-sel punca (stem cell) yang sehat.

Rehabilitasi medik bertujuan untuk: 

  • Mengoptimalkan pengembalian kemampuan mobilisasi.
  • Meningkatkan ketahanan jantung serta pernapasan. 
  • Memperbaiki fungsi saraf sensoris dan motoris.
  • Memaksimalkan pengembalian fungsi otak.
  • Memelihara dan atau meningkatkan fungsi sosial dan spiritual.
  • Meningkatkan kualitas hidup dengan memperbaiki dan memaksimalkan kemampuan fungsional.
  • Mengatasi keluhan nyeri (nyeri yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan disabilitas).

Pendekatan rehabilitasi medik dapat diberikan sedini mungkin sejak sebelum pengobatan definitif diberikan dan dapat dilakukan pada berbagai tahapan. Pengobatan penyakit disesuaikan dengan tujuan penanganan rehabilitatif kanker, antara lain preventif, restorasi, suportif, dan paliatif.

Malnutrisi merupakan kondisi yang umum ditemukan pada pasien kanker, mencakup hingga 85% dari pasien. Secara umum WHO mendefinisikan malnutrisi berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh) < 18,5 kg/m2. Jika tidak ditangani dengan baik, malnutrisi dapat memperburuk keadaan pasien kanker dan menurunkan angka kesembuhan. Diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan ahli gizi untuk penanganan lebih lanjut.

  • Tidak ada cara khusus untuk mencegah terjadinya limfoma maligna (terutama jenis non hodgkin).
  • Deteksi dini dengan mengenal tanda dan gejala limfoma sedini mungkin dapat mencegah ke stadium lanjut yang lebih berat.
  • Menjaga imunitas tubuh dan mencegah infeksi antara lain HIV yang penyebarannya dengan penggunaan jarum suntik berulang dan hubungan sex yang tidak aman.
  • Melakukan hidup sehat seperti olahraga teratur, tidak merokok, makan makanan bergizi, dan diet seimbang agar imunitas tetap terjaga.

Baca juga : Mengenal Limfoma Maligna