Minggu, 21 Maret 2021 08:34 WIB

Mengenal Dermatitis Numularis

Suatu kelainan kulit kronis yang menyebabkan munculnya bercak-bercak lingkaran membentuk plak berbentuk seperti koin, berbatas tegas. Bercak ini sangat gatal, memiliki permukaan kasar, biasanya mengenai anggota gerak atas dan bawah, namun tidak menular. 
Sinonimnya yaitu Eksema Diskoid.

  1. Bercak yang timbul di permukaan kulit berukuran 1-3 cm berbentuk koin, bertekstur kasar, berwarna kecoklatan atau kemerahan.
  2. Bercak ini dapat berwarna kekuningan, membengkak, melepuh, dan mengeluarkan cairan jika sudah terjadi infeksi sekunder dan menimbulkan meriang.
  3. Terasa menyengat seperti terbakar dan rasa gatal.
  4. Biasanya mengenai anggota gerak atas (punggung tangan) pada wanita, anggota gerak bawah pada pria. Namun kelainan kulit ini bisa meluas ke wajah, leher, atau keseluruh tubuh.
  5. Bercak yang mulai menyembuh dimulai dari bagian tengah.
  1. Kulit sangat kering (xerosis) dan sensitif terhadap sejumlah zat tertentu (seperti nikel, merkuri formaldehid, atau antibiotik yang dioleskan ke kulit).
  2. Fokus infeksi pada gigi.
  3. Infeksi saluran napas atas atau bawah.
  4. Faktor alergen lingkungan seperti tungau dan debu rumah
  5. Stres.
  1. Menyerang terutama pada dewasa usia 50-65 tahun, jarang pada bayi dan anak-anak.
  2. Disfungsi liver atau konsumsi alkohol berlebihan dapat memperberat penyakit.
  3. Menderita atau memiliki riwayat alergi, asma, atau dermatitis atopik.
  4. Tinggal di daerah beriklim kering atau dingin.
  5. Memiliki kulit sensitif akibat yang mudah mengalami iritasi.

Dokter akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami pasien, serta menelusuri riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat penyakit keluarganya. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik di area kulit yang mengalami keluhan.

Untuk penegakan diagnosis biasanya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang khusus. Namun ada kalanya Dermatitis Numularis ini mirip dengan penyakit kulit lainnya seperti Dermatitis Kontak Alergi, Dermatitis Atopik, Dermatitis Stasis, dan Tinea Korporis. Jika ada diagnosis banding, maka pemeriksaan penunjang khusus yang dapat dilakukan antara lain Pemeriksaan Kerokan Kulit, Tes Alergi Tempel (Patch Testing), dan Biopsi Kulit.

  1. Non-Farmakologi
    • Menghindari/ meminimalisir faktor pencetus yang menyebabkan timbulnya alergi.
    • Mengelola stres dengan baik dengan melakukan kegiatan yang disenangi.
    • Memberikan emolien jika kulit kering.
    • Memakai alat pelindung jika bersentuhan dengan bahan yang mudah mengiritasi kulit seperti memakai sarung tangan.
    • Mencegah garukan
       
  2. Farmakologi
    • Kortikosteroid Topikal: Obat ini berfungsi meredakan peradangan dan mengurangi iritasi pada area bercak (berbentuk krim). Kortikosteroid dalam bentuk tablet/suntikan diberikan pada kasus yang berat (dalam pengawasan dokter).
    • Antihistamin: berfungsi meredakan rasa gatal dan tidak nyaman pada kulit
    • Antibiotik diberikan jika terjadi infeksi.
       
  3. Terapi Radiasi Ultraviolet (UV)
    Terapi ini dilakukan pada kasus Dermatitis Numularis yang parah (mengenai seluruh tubuh) dan tidak memberikan hasil maksimal dengan pemberian obat-obatan.

Ada beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat Dermatitis Numularis ini, antara lain:

  1. Perubahan warna permanen pada area kulit yang terkena Dermatitis Numularis.
  2. Selulitis (infeksi bakteri di kulit dan lapisan di bawahnya).
  3. Bekas luka permanen pada area yang terkena Dermatitis.

Baca juga : Dermatitis Popok