Senin, 20 Juni 2022 09:14 WIB

Pneumonia

picture-of-article

Paru-paru merupakan organ tubuh yang rentan terserang benda asing seperti makanan atau mikroba seperti virus dan bakteri, hal tersebut membuat kita kerap mengalami penyakit pernapasan dengan gejala ringan sampai gejala yang membutuhkan bantuan medis. Selain itu letak saluran nafas (trakea) bersebelahan dengan pintu masuk saluran cerna (esofagus atau kerongkongan) dapat menyebabkan seseorang mengalami tersedak.

Pneumonia merupakan salah satu penyakit pernapasan akut yang menyerang paru-paru. Bagian dalam paru-paru terdiri dari kantung-kantung udara kecil bernama alveoli, tempat bertukarnya udara. Alveoli diselubungi oleh pembuluh darah untuk menyerap oksigen dari udara yang baru dan membuang karbondioksida dari darah. Oksigen dibutuhkan oleh tubuh dalam menyokong tenaga pada organ dan sel tubuh. Ketika seseorang terserang pneumonia, alveoli kerap kali terisi oleh cairan infeksi yang menyebabkan proses pertukaran oksigen dan karbondioksida terganggu. Hal ini yang biasanya menimbulkan gejala sesak napas dan lemah pada penderitanya.

Pneumonia menyebabkan 14% kematian pada anak usia dibawah 5 tahun pada 2019. Asia selatan dan Sahara Afrika menjadi wilayah yang memiliki dampak pneumonia paling buruk. Pneumonia dapat menyerang siapa saja, terkhusus anak-anak. Namun penyakit ini sangat bisa dicegah dengan sederhana dan pengobatan yang relatif terjangkau.

Paru-paru memiliki sistem pertahanan sendiri terhadap benda asing termasuk mikroba agar tidak masuk ke saluran pernapasan. Bulu-bulu siliari pada saluran trakea membantu menangkap mikroba yang masuk dan dikeluarkan secara perlahan bersama cairan dahak. Pada tingkat yang lebih dalam lagi seperti alveoli, terdapat makrofag, salah satu sel darah putih, yang siap menetralisir mikroba yang masuk. Namun jika jumlah mikroba yang masuk terlalu banyak, sistem pertahanan ini bisa saja dilewati dan mikroba berhasil menginfeksi paru-paru.

Penyakit ini dapat menular melalui cairan pernapasan penderita seperti dahak, liur, dan mukus hidung. Pneumonia juga menular melalui udara saat penderita batuk atau bersin. Pada kasus bayi baru lahir, pneumonia juga dapat ditularkan melalui darah.

Pneumonia dapat disebabkan oleh banyak jenis mikroba dan asalnya. Bakteri, virus dan jamur bisa menyebabkan pneumonia. Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang paling sering menginfeksi, terutama pada anak-anak, menyusul Haemophilus influenzae type B (Hib). Sedangkan pada pneumonia akibat virus sering disebabkan oleh Respiratory syncytial virus.

Pneumonia juga dibedakan berdasarkan penyebab asal infeksinya, antara lain:

  1. Community Acquired Pneumonia merupakan pneumonia yang didapat dari udara lingkungan penderita atau tertular oleh penderita lain, di luar fasilitas kesehatan.
  2. Hospital Acquired Pneumonia merupakan pneumonia yang didapat saat seseorang sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit. Pneumonia ini umumnya lebih berat karena kaitannya dengan tingkat resistensi antibiotik di lingkungan rumah sakit, sehingga berpeluang lebih sulit disembuhkan.
  3. Ventilator Acquired Pneumonia merupakan pneumonia yang didapat saat penderita memakai ventilator. Kebersihan selang dan tabung ventilator sangat diperhatikan selama perawatan. Namun selama pemakaian, tingkat sanitasi saluran ventilator bisa terus menurun, menyebabkan terbentuknya biofilm atau lapisan koloni bakteri yang siap terhirup oleh pemakai ventilator.
  4. Aspiration Pneumonia merupakan pneumonia yang didapat dari benda asing yang masuk ke saluran pernapasan, seperti tersedak makanan atau lainnya. Pada umumnya kebanyakan makanan tidak steril, sehingga saat seseorang mengalami aspirasi/tersedak, mikroba bisa langsung terpapar pada saluran napas. 

Berdasarkan lokasi infeksi yang terdampak, pneumonia juga dikategorikan terpisah, seperti:

  1. Bronkopneumonia yang merupakan kondisi infeksi pneumonia pada hampir seluruh paru-paru.
  2. Atypical Pneumonia yang merupakan kondisi infeksi tidak terlalu khas. Pada kondisi ini, cairan infeksi bisa saja berada di jaringan interstisial sel paru, bukan di dalam alveoli pada umumnya. Biasanya dapat disebabkan oleh jamur.
  3. Lobar Pneumonia adalah kondisi infeksi yang terjadi hanya pada satu lobus paru-paru.

Ketiga gambaran lokasi infeksi pneumonia di atas dapat dibedakan berdasarkan hasil citra diagnostik radiologi seperti X-ray maupun CT-Scan.

Gejala pada pneumonia dapat berkembang cepat dalam 24 hingga 48 jam atau perlahan dalam beberapa hari. Gejala paling umum meliputi:

  • Batuk yang terus memburuk seiring waktu tanpa atau disertai dengan dahak berwarna kuning, hijau maupun coklat;
  • Sesak napas, seperti pernapasan cepat dan dangkal bahkan saat istirahat;
  • Demam;
  • Lemas dan tidak enak badan;
  • Hilang nafsu makan;
  • Nyeri dada, yang dirasakan memberat saat batuk atau menarik napas.

Gejala lain yang lebih jarang ditemukan seperti batuk darah (haemoptysis), kelelahan, nyeri sendi, bunyi saat bernapas, dan kebingungan yang sering dijumpai pada penderita lansia.

Penanganan pneumonia bergantung pada faktor penyebabnya. Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri maka antibiotik adalah pilihannya. Pengobatan ini relatif terjangkau dan bisa didapat dari fasilitas kesehatan terdekat. Di sisi lain, jika pneumonia disebabkan oleh virus, umumnya tidak memerlukan penanganan spesifik karena layaknya siklus hidup virus dan proses sistem imun, pneumonia ini kebanyakan akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Maka kebanyakan kasus pneumonia dapat disembuhkan dengan perawatan di rumah.

Perawatan di rumah sakit diperlukan hanya pada kasus pneumonia berat. Penderita yang mengalami sesak napas hebat bahkan saat istirahat, kesulitan mencukupi asupan nutrisi di rumah, hingga gangguan tanda-tanda vital cenderung membutuhkan perawatan rumah sakit.

Mencegah pneumonia sangat bisa dilakukan karena bersinggungan pada rutinitas sehari-hari. Beberapa cara mencegahnya antara lain:

  1. Imunisasi dilakukan secara lengkap terutama pada anak. Program imunisasi lengkap pada anak terbukti sangat efektif dalam mencegah kejadian pneumonia pada anak. Pada dewasa, imunisasi pneumonia atau flu bisa dilakukan secara tahunan, sesuai rekomendasi dokter.
  2. Pola hidup bersih dapat diterapkan terutama dengan selalu memastikan kualitas udara di tempat tinggal selalu baik dengan menjaga sirkulasi pertukaran melalui ventilasi yang cukup. Menggunakan masker saat bepergian pada daerah dengan udara berpolusi atau tercemar juga dapat menurunkan resiko terinfeksi pneumonia.
  3. Jangan merokok karena asap dari rokok yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya dapat merusak paru-paru terutama sistem pertahanan alami paru, seperti bulu siliari dan produksi cairan saluran pernapasan.
  4. Menjaga imun tetap kuat menjadi perisai paling dasar dalam mencegah pneumonia. Udara yang kita hirup tidak akan pernah terjamin kebersihannya. Maka tubuh perlu selalu siap dalam menanggapi segala mikroba yang berusaha masuk ke tubuh, termasuk saluran napas. Menjaga sistem imun tetap optimal dapat dilakukan dengan olahraga rutin dan makanan bergizi.

Baca juga : Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien GGK

0 Disukai

26 Kali Dibaca