Kamis, 18 Maret 2021 01:43 WIB

Pola Makan untuk Pasien Stroke

Stroke dapat mengakibatkan terjadi beberapa kelainan yang berhubungan dengan kemampuan makan pasien, seperti sulit menelan dan ketidakmampuan makan sendiri karena kelumpuhan sehingga dapat mempengaruhi status gizi pasien. Untuk mencegah penurunan status gizi pasien dan mencapai status gizi optimal, maka diperlukan pola makan yang tepat untuk pasien stroke.

  1. Memenuhi kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan keadaan komplikasi penyakit.
  2. Memelihara keseimbangan cairan & elektrolit. Banyak pasien stroke yang mengalami dehidrasi maupun kekurangan Natrium.
  3. Menurunkan berat badan jika berlebih.
  4. Meminimalkan kegiatan mengunyah & menggigit.
  5. Mengkonsumsi serat untuk mencegah sembelit.

Rekomendasi Pola Makan

  1. Pasien dengan gangguan kesadaran/menelan diberi makanan cair melalui NGT (selang makanan/sonde).
  2. Tekstur makanan ditingkatkan jika kondisi pasien membaik.
  3. Pada pasien yang sulit menelan, hindari makanan yang dapat menimbulkan rasa tercekik/tersedak, seperti makanan yang liat dan keras.
  4. Pasien dengan penurunan produksi air liur diberi makanan lunak atau berkuah.
  5. Jenis pola makan tergantung penyakit penyerta.

Syarat Pola Makan

  1. Energi: diberikan cukup sesuai umur, tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, dan jenis aktivitas.
  2. Protein: diberikan cukup 0,8 – 1 gr/kg berat badan per hari.
  3. Lemak: diberikan 20-25% dari total energi.
  4. Karbohidrat: diberikan 60-65% dari total energi.
  5. Vitamin: diberikan cukup terutama vit C, vit B6, vit E, dan vit B12.
  6. Mineral: diberikan cukup terutama kalium, zat besi, kalsium, dan magnesium.
  7. Natrium: diberikan 600-800 mg per hari atau disesuaikan dengan tekanan darah pasien.
  8. Serat: diberikan cukup untuk menurunkan kolesterol darah dan mencegah sembelit.
  9. Cairan: diberikan cukup 6-8 gelas per hari.

Berdasarkan tahapannya, pola makan pasien stroke dibagi menjadi dua fase, yaitu:

  1. Fase Akut (24-48 Jam).
    Fase akut adalah keadaan tidak sadarkan diri atau kesadaran menurun. Pada fase ini diberikan makanan parenteral (nothing per oral/NPO) dan dilanjutkan dengan makanan enteral (NGT/selang makanan/sonde). Pemberian makanan parenteral total perlu dimonitor dengan baik. Kelebihan cairan dapat menimbulkan edema serebral. 
    Pola makan fase akut atau bila ada gangguan fungsi menelan. Makanan diberikan dalam bentuk cair kental atau kombinasi cair jernih dan cair kental yang diberikan secara oral atau NGT (selang makanan/sonde) sesuai dengan keadaan penyakit. Makanan diberikan dalam porsi kecil tiap 2-3 jam. Lama pemberian makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.
    Bahan makanan cair sehari untuk pola makan fase akut adalah sebagai berikut:
    Bahan Makan Berat (g) Ukuran Rumah Tangga
    Maizena 25 5 sdm
    Telur Ayam 50 1 btr
    Susu full cream bubuk 25 5 sdm
    Susu Skim bubuk 120 24 sdm
    Buah 120 2 ptg sdg pepaya
    Minyak Jagung 20 2 sdm
    Gula Pasir 100 10 sdm
    Cairan 1500 ml 6 gls

    Nilai gizi yang terkandung dalam bahan makanan tersebut adalah sebagai berikut:
    Energi 1361 kkal Kalsium 1869 mg
    Protein 56 g (16% energi total)  Besi 6,1 mg
    Lemak Total 34 g (22% energi total) Vitamin A 1573 RE
    Lemak Jenuh 8,4 g (5,5% energi total) Tiamin 0,6 mg 
    Karbohidrat 211 g (61% energi total) Vitamin C 166 mg
    Kolesterol 213 mg  

    Pembagian bahan makanan sehari dapat kita lihat sebagai berikut:

    Waktu Bahan Makanan Volume (ml) Ukuran Rumah Tangga
    Pukul 07.00 Makanan cair 250 1 gls
    Pukul 10.00 Susu 200 3/4 gls
    Sari buah 100 1/2 gls
    Pukul 13.00 Makanan cair 250 1 gls
    Pukul 15.00 Susu 200 3/4 gls
    Sari buah 100 1/2 gls
    Pukul 18.00 Makanan cair 250 1 gls
    Pukul 21.00 Makanan cair 250 1 gls


    Bahan makanan yang dianjurkan pada pola makan fase akut adalah:

    Sumber karbohidrat Maizena, tepung beras, tepung hunkwe, dan sagu
    Sumber protein hewani Susu full cream, susu skim, dan telur ayam 3-4 butir/minggu
    Sumber protein nabati Susu kedelai, sari kacang hijau, dan susu tempe
    Sumber lemak Margarin dan minyak jagung
    Buah Sari buah yang dibuat dari jeruk, pepaya, tomat, sirsak, dan apel
    Minuman Teh encer, sirup, air gula, madu, dan kaldu

     

  2. Fase Pemulihan.
    Fase pemulihan adalah fase dimana pasien sudah sadar dan tidak mengalami gangguan fungsi menelan (disfagia). Makanan diberikan per oral secara bertahap mulai dalam bentuk makanan cair, makanan saring, makanan lunak, hingga makanan biasa.
    Pola makan ini diberikan sebagai perpindahan dari fase akut ke fase pemulihan.
    Bentuk makanan merupakan kombinasi cair jernih dan cair kental, saring, lunak, dan biasa. Pemberian diet pada pasien stroke disesuaikan dengan penyakit penyertanya.
    Pola makan ini dibagi dalam tiga tahap, yaitu: 
    1) Makanan cair ditambah bubur saring 1700 kkal
    2) Makanan lunak 1900 kkal
    3) Makanan biasa 2100 kkal

Baca juga : Depresi Pasca Stroke: Gejala, Dampak, Penyebab, dan Pengelolaannya