Rabu, 14 Juli 2021 11:17 WIB

Hordeolum

Hordeolum merupakan infeksi satu atau lebih kelenjar pada kelopak mata. Tampak seperti sebuah tonjolan yang disertai dengan nyeri dan kemerahan di kelopak mata. Hordeolum disebabkan adanya infeksi yang terlokalisir dari bakteri Staphylococcus aureus.

Terdapat 2 bentuk dari Hordeolum.

  1. Hordeolum Eksternum, yaitu infeksi kelenjar Zeis atau dari folikel bulu mata.
  2. Hordeolum Internum, yaitu infeksi yang muncul pada kelopak mata bagian belakang.
  • Infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan.
  • Tidak dipengaruhi oleh ras dan jenis kelamin.
  • Banyak terjadi pada usia dewasa (30–50 tahun) daripada anak–anak, karena tingkat hormon yang tinggi dan menyebabkan peningkatan dari produksi sebum (kelenjar minyak).
  • Riwayat hordeolum sebelumnya.
  • Kebiasaan dan lingkungan yang tidak bersih.
  • Pemakaian lensa kontak dan make-up yang tidak bersih.
  • Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
  • Peradangan kelopak mata kronik, seperti blefaritis.
  • Diabetes mellitus, dermatitis seboroik, dan hiperkolesterolemia.

Benjolan kecil dengan titik berwarna kekuningan di tengah benjolan yang kemudian berubah jadi nanah dan melebar ke sekitar area tersebut. Disertai bengkak yang terlokalisir pada kelopak mata, nyeri yang terlokalisir, kemerahan, nyeri tekan, dan bisa disertai muncul krusta (kristal) di tepi kelopak mata. Kadang juga disertai dengan bola mata seperti sensasi terbakar, kelopak mata lebih rendah (turun) dibanding sebelahnya, gatal, dan penurunan dari penglihatan.

Terjadinya hordeolum diawali dengan pembentukan pus (nanah) dalam saluran kelenjar oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Biasanya mengenai kelenjar Zeis dan Moll. Selanjutnya terjadi pengecilan saluran dan penumpukan hasil sekresi kelenjar. Penumpukan ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi pembentukan nanah dalam saluran kelenjar. Perjalanan alamiah dari hordeolum internum akut umumnya berlangsung antara satu hingga 2 minggu, dimulai dengan munculnya nanah dan berakhir dengan drainase spontan dari nanah tersebut.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan mata sederhana. Dikarenakan kekhasan dari manifestasi klinis penyakit ini, maka pemeriksaan penunjang tidak diperlukan.

Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari. Terapi hordeolum meliputi terapi non farmakologi, farmakologi, dan terapi pembedahan.

  1. Non Farmakologi
    • Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 10-15 menit tiap kalinya untuk membantu drainase (pengeluaran nanah). Lakukan dengan mata tertutup.
    • Bersihkan kelopak mata dengan air bersih ataupun dengan sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang lebih serius.
    • Hindari pemakaian make-up pada mata karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi.
    • Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.
  2. Farmakologi
    • Pemberian antibiotik bisa dengan topikal ataupun oral sangat disarankan. Akan tetapi harus dengan resep dan pengawasan dokter dalam pemberian obat antibiotik tersebut.
    • Diberikan tambahan untuk obat anti nyeri dan anti radang. 
    • Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.
  3. Pembedahan
    Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum.

Prognosis hordeolum akan menjadi baik jika tidak terjadi komplikasi dari hordeolum seperti infeksi pada bola mata. Jika pasien melakukan manipulasi pada hordeolum seperti tindakan memencet atau menusuk hordeolum dengan jarum tidak steril, maka infeksi dapat menyebar menuju area yang lebih luas dan menyebabkan terapi penyembuhan menjadi lebih sulit. Jika hordeolum muncul berulang-ulang, harus diperiksakan diagnosis lainnya seperti keganasan dan di-follow up dengan melakukan pemeriksaan histopatologis (secara mikroskopik).

Baca juga : Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien GGK