Jumat, 11 Agustus 2023 13:57 WIB

Stres

picture-of-article

Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Stres merupakan reaksi yang normal dari tekanan dan perubahan sehari-hari, namun dapat menjadi tidak sehat jika tidak terkelola dengan baik sehingga mengganggu fungsi diri. Stres memengaruhi sistem tubuh, emosi, dan perilaku seseorang. Oleh karena itu, stres berkontribusi terhadap kesehatan fisik dan psikologis hingga mampu menurunkan kualitas hidup.

Pada dasarnya, stres dibutuhkan dalam hidup. Stres memotivasi untuk berusaha lebih, tetap fokus, dan terjaga. Saat dihadapkan pada tekanan dan perubahan, tubuh merespon dengan memproduksi hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol yang meningkatkan tekanan darah, denyut nadi, energi sehingga tubuh siap untuk menghadapi masalah tersebut. Namun, jika dalam setiap hari dihadapkan pada situasi yang memicu stres, akan ada dampak yang terjadi pada tubuh.

Dalam jangka pendek, stres dapat berdampak bagi tubuh dalam kadar ringan hingga berat. Contohnya, sakit perut sebelum presentasi serta tubuh menjadi lemas atau sakit kepala hebat setelah mengalami bencana besar. 

Dalam jangka panjang, stres berbahaya bagi tubuh. Stres dapat meningkatkan risiko kesehatan seperti cemas, depresi, gangguan pencernaan, sakit kepala, sakit sendi, sakit jantung, hipertensi, stroke, gangguan tidur, peningkatan berat badan, dan gangguan konsentrasi. Stres dapat memicu munculnya penyakit secara langsung atau tidak. Secara tidak langsung artinya coping kurang baik terhadap stres seperti merokok dan makan berlebihan yang kemudian bertanggung jawab terhadap kemunculan penyakit. Stres berkepanjangan juga dapat menekan sistem imun, sehingga mempersulit proses penyembuhan penyakit.

Gejala stres dapat dilihat dari aspek fisik, emosional dan mental, serta perilaku.

Gejala fisik

  • Napas tersengal-sengal, berkeringat, dan jantung berdegup kencang.
  • Sakit kepala, pandangan berputar, dan sulit tidur.
  • Mual, dan gangguan pencernaan.
  • Berat badan naik atau turun karena makan terlalu banyak atau sedikit.
  • Rasa sakit dan nyeri.

Gejala emosional dan mental

  • Mudah kesal dan marah, meledak-ledak.
  • Menarik diri dari keluarga dan teman.
  • Mengabaikan tanggung jawab, berkurang efisiensi kerja atau sulit berkonsentrasi.
  • Tekanan emosional, seperti terus-menerus merasa sedih atau mudah menangis.

Gejala perilaku

  • Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
  • Sulit tidur atau tidur terlalu sering.
  • Menurunnya dorongan seksual atau sulit menikmati hubungan seks.
  • Merokok atau minum alkohol.
  • Belanja atau mengeluarkan uang berlebihan.

Manajemen stres merupakan keterampilan yang perlu dimiliki banyak orang. 

1. Menghilangkan sumber stres
Hal ini dapat dilakukan jika sumber stres merupakan suatu objek maupun situasi yang dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Misal, seseorang yang stres ketika mendengarkan musik saat bekerja dapat mematikan musik sehingga dirinya menjadi lebih tenang.

2. Menghindari sumber stres
Ada kalanya sumber stres tidak dapat dihindari sehingga kita terus dihadapkan pada kondisi tersebut. Liburan, cuti, atau bahkan mengambil waktu istirahat sejenak di sela-sela pekerjaan dapat menjadi salah satu upaya agar stres tidak semakin parah.

3. Mengubah persepsi terhadap sumber stres
Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengelola stres adalah dengan mengubah pola pikir terhadap sumber stres tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan konsep diri yang positif. 

4. Mengendalikan konsekuensi dari stres
Kembangkan respon yang sehat. Alih-alih mencoba untuk melawan stres dengan mengeluarkan emosi negatif (eg: marah) atau mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan tidak sehat lainnya, buatlah pilihan yang sehat untuk mengatasi stres tersebut. Misal seperti berolahraga, relaksasi, menulis, dan melukis. Berikan waktu untuk hobi dan aktivitas favorit seperti membaca novel, menonton ke bioskop atau bermain game dengan keluarga.

5. Menerima dukungan sosial
Berbagi cerita kepada sahabat maupun keluarga dapat menjadi salah satu dukungan bagi kita melewati stres. Jika gejala stres tidak dapat diatasi dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas, silakan melakukan konsultasi ke psikolog.
 

Azza Maulydia
Psikolog Yakes Telkom

Baca juga : Pola Makan untuk Pasien Stroke

0 Disukai

209 Kali Dibaca